Pedoman Pengelolaan BIM.

24 Feb 2009

logo-bim41

PEDOMAN PENGELOLAAN & PENGEMBANGAN

BINA INSAN MANDIRI (BIM)

PESANTREN ATTAHDZIBY

MUQADDIMAH

besmala7

A. MASA DEPAN YANG SURAM

Tidak bisa disangkal bahwa dalam upaya mencapai cita-cita hidup sejahtera di dunia banyak orang yang berlomba-lomba menempuh pendidikan setinggi mungkin. Banyak orang tua merasa bangga bila putra putrinya dapat kesempatan belajar pada sekolah atau perguruan tinggi ternama. Mereka rela berkorban apapun demi pendidikan putra putrinya dengan harapan kelak bisa menjadi karyawan, pegawai, atau pejabat yang bergaji tinggi. Karena besarnya harapan putra putrinya dimanjakan dengan diberikannya apa yang diminta dan mereka dibebaskan dari kesibukan termasuk mengurus dirinya sendiri. Apalagi sampai dibebani latihan wirausaha, sikap mandiri, atau pekerjaan-pekerjaan yang dianggapnya mengganggu belajar mereka.

Namun setelah lulus sekolah atau berhasil memperoleh gelar sarjana timbul permasalahan baru. Kegelisahan timbul karena sulitnya mendapatkan pekerjaan, meskipun lamaran telah diajukan ke berbagai instansi atau perusahaan. Kalaupun mendapatkan pekerjaan seringkali dengan gaji yang tidak sesuai dengan ijazah atau gelar sarjananya. Akan berwirausaha atau usaha mandiri merasa gensi atau tidak ada kemampuan yang disebabkan sudah terbiasa dimanja dan dicukupi keperluannya. Akibatnya dunia terlaranglah dianggap yang lebih tepat dijadikan pelampiasannya, lebih-lebih bilamana pembinaan bidang moral spiritual (keimanan, ketaqwaan, akhlaqul karimah) sebelumnya sudah terabaikan. Kalau begitu suramlah masa depan generasi kita.

B. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN

Saat ini masyarakat muslim mulai menyadari bahwa agama Islamlah sebagai dasar pendidikan dan pembinaan moral yang mampu mendidik manusia menjadi insan yang berfungsi sebagai Rahmatan Lilalamiin. Berbagai penelitian yang berkaitan dengan metode pendidikan di berbagai negara ternyata mendapatkan kesimpulan bahwa sistem pendidikan bersama (boarding schol) adalah yang terbaik dan banyak kelebihannya. Sistem tersebut sudah sejak dahulu diterapkan di pesantren-pesantren yang beredar di negeri kita.([1])

Di sisi lain pendidikan dan pembimbingan di sebagian pesantren masih banyak kekurangan dan kelemahan sehingga fungsi tersebut belum bisa tercapai dengan maksimal. Diantaranya adalah kurang adanya pembimbingan di bidang komunikasi dengan masyarakat luas (bermasyarakat), kepedulian kepada sesama, dan kemandirian dalam keperluannya sendiri, serta seakan-akan lebih dimanjakan, terutama bagi santri dari keluarga berada.

C. MINIMALKAN KEKURANGAN

Memperhatikan hal-hal tersebut Pesantren Attahdziby berusaha untuk meminimalkan kekurangan dan kelemahan dengan mem-bentuk Lembaga Pembinaan Santri agar menjadi insan yang mandiri dengan nama BINA INSAN MANDIRI di PESANTREN ATTAHDZIBY.

Agar pengelolaan dan pengembangan lembaga tersebut bisa lebih tertib, adminstratif, lancar dan aman diperlukan adanya pedoman pengelolaan dan pengembangan yang dijadikan acuan dan pijakan dalam pelaksanaannya sebagimana termaktub di bawah ini.

BAB I

PENGERTIAN UMUM

Pasal 1

Pesantren Attahdziby

  1. Pesantren Attahdziby adalah lembaga pendidikan, pembinaan, dan pemberdayaan para santri dan masyarakat sekitarnya, baik moril maupun materiil dengan upaya :
  2. Mendidik dan menyebarluaskan ilmiyah islamiyah dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan skil life;
  3. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan santri dan masyarakat;
  4. Membina ubudiyah dan akhlaqul-karimah santri dan masyarakat
  5. Meningkatkan keeratan ukhuwah islamiyah dan menjalin kerja-sama yang baik dengan pihak-pihak lain dan masyarakat luas;
  6. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk mewujudkan pemberdayaan kemandirian santri dan masyarakat

Pasal 2

Identitas Pesantren Attahdziby

Nomor Statistik

: 042351902100

Nomor Piagam

: Kw.13.5/02/PP.00.7/248/2004

Nama

: PESANTREN ATTAHDZIBY

Alamat

: Jl. Masjid, SANGEN, GEGER, MADIUN, 63171, JATIM

No. Telepon/Fax

: (0351) 466399

Website / Email

: www.suasana.multiply.com /

attahdziby@plasa.com

Tahun Berdiri

: 12 Robiul awal 1419 H / 05 Juni 1998 M

Tipe

: SALAFIYAH

Pendiri

: 1. K. MOH. BASHORI ALWY,

2. K. ZAINUDDIN TAMSIR,

3. K. MUHROZIN

Pengasuh

: K ZAINUDDIN TAMSIR

Pembelajaran / Pelatihan

: a. System Halaqah / Kajian kitab kuning;

b. Madrasah Diniyah Attahdzibiyah :

b.1. No. Statistik : 412351902019

b.2. : = Tingkat Ula : 3 tahun;

= Tingkat Wustha : 3 tahun;

= Tingkat Ulya : 3 tahun;

c. Latihan ketrampilan elektro, menjahit, pertukangan, peternakan, pertanian, perdagangan yang dikelola oleh lembaga BIM (Bina Insan Mandiri).

Pasal 3

Pesantren Attahdzib dan Bina Insan Mandiri

Lembaga Bina Insan Mandiri adalah salah satu upaya pelak-sanaan program Pesantren Attahdziby dengan bentuk lembaga pelatihan, pembinaan, peningkatan dan pengembangan kualitas SDM santri dan masyarakat sekitar Pesantren Attahdziby untuk mewujud-kan terbentuknya insan mandiri yang berilmu, beriman, bertaqwa, berwirausaha, dan berguna bagi agama, nusa, dan bansa.

BAB II

BINA INSAN MANDIRI (BIM)

Pasal 4

Nama dan Sekretariat BIM

Lembaga ini bernama BINA INSAN MANDIRI disingkat BIM. Alamat Sekretariat : Pesantren Attahdziby, Jl Masjid, Sangen, Geger, Madiun, 63171, Jawa Timur. Telp. / Fax (0351) 466399, Website : http://bimpesat.blogdetik.com Email : bimpesat@gmail.com

Pasal 5

Missi dan Visi BIM

(1) Meningkatkan dan mengembangkan kualitas SDM santri dan masyarakat sekitar Pesantren Attahdziby untuk mewujudkan ter-bentuknya insan mandiri yang berilmu, beriman, bertaqwa, ber-wirausaha, dan berguna bagi agama, nusa, dan bangsa;

(2) Menjadikan BIM sebagai sumber kesejahteraan santri, Pesantren Attahdziby dan masyarakat sekitarnya;

(3) Menyediakan peluang pekerjaan bagi santri sehingga bisa men-cukupi keperluannya sendiri tanpa bekal dari orang tua / orang lain, dan peluang bagi masyarakat yang memerlukan pekerjaan;

(4) Mengadakan aktifitas yang menunjang tercapainya missi di atas, antara lain :

= Pembinaan mental spiritual dan akhlaqul-karimah;

= Pelatihan dan pengembangan komunikasi dan kerjasama dengan masyarakat luas (bermasyarakat);

= Pelatihan dan pengembangan kerja cerdas, keras, dan ikhlas;

= Pelatihan keterampilan yang menunjang kemandirian;

= Pengelolaan berbagai usaha penunjang kemandirian santri dan Pesantren;

= Pembinaan sikap disiplin, amanah / jujur, menepati kuajiban, hemat dan hidup sederhana;

= Pembinaan peduli sesama, keeratan ukhuwah, dan taawun (saling menolong).

Pasal 6

Waktu, Tempat, dan Lambang BIM

  1. BIM dirintis pada awal bulan Pebruari 2009 M / awal bulan Shafar 1430 H, Didirikan dan bersekrtariat di Pesantren Attahdziby, Sangen, Geger, Madiun untuk waktu yang tidak ditentukan.
  2. Lambang BIM : sama dengan lambang Pesantren Attahdziby dan ditambah tulisan di tengah yang berbunyi BINA INSAN MANDIRI

logo-bim-122

Pasal 7

Hubungan BIM dengan Pesantren Attahdziby

  1. BIM adalah sebagai salah satu lembaga dalam upaya Pesantren Attahdziby untuk mencapai tujuan dan fungsinya terutama di bidang kesejah-teraan dan kemadirian.
  2. Pengurus Pesantren Attahdziby bertanggung jawab atas per-jalanan BIM dan berfungsi sebagai pembina dan pengawas dalam pelaksanaan tugas pengurus BIM.

Pasal 8

Hubungan BIM dengan lembaga lain

Hubungan BIM dengan Lembaga atau Perusahaan lain sebagai mitra yang saling memberi bantuan dan keuntungan dengan jalinan kerjasama yang baik;

BAB III

USAHA, PENGELOLAAN, DAN PENGEMBANGAN

Pasal 9

Usaha-usaha

(1) Mengadakan usaha-usaha halal yang menunjang / membantu kesejahteraan anggota dan masyarakat; seperti perdagangan, pertanian, peternakan, perikanan, dan lain sebagainya;

(2) Menjalin kerjasama yang baik dengan lembaga/perusahaan lain dangan prinsip saling memberi keuntungan;

(3) Mengadakan kursus dan pelatihan ketrampilan yang mendukung kemandirian BIM dan anggotanya;

Pasal 10

Pengelolaan Usaha

(1) Pengelolaan usaha dilakukan dengan cara demokratif, tertib, administratif dan keterbukaan;

(2) Pengelolaan dilakukan atas keputusan Rapat Gabungan Pengurus Pesantren atau Rapat Kerja Pengurus BIM;

Pasal 11

Pengembangan Usaha dan BIM

  1. Mengembangkan usaha-usaha yang menguntungkan dan men-dukung kemandirian BIM dan anggotanya;
  2. Mendatangkan seorang / beberapa orang ahli di bidang yang diperlukan dari perorangan, perusahaan, lembaga lain atau instansi pemerintah untuk memberikan pembinaan, penataran dan pelatihan, yang bersifat rutin atau sementara waktu;
  3. Mendirikan cabang BIM di daerah-daerah lain bila diperlukan;

BAB IV

KEANGGOTAAN

Pasal 12

Anggota BIM

Anggota BIM terdiri dari :

a. Santri dan keluarga Pesantren Attahdziby;

b. Masyarakat yang bersedia dan memenuhi persyaratan;

c. Perorangan (bukan lembaga);

Pasal 13

Persyaratan Anggota

  1. Sekurang-kurangnya umur 15 tahun;
  2. Mengajukan permohonan dengan mengisi formulir yang disedia-kan oleh BIM;
  3. Menanam modal untuk dirinya sendiri sedikitnya Rp 200.000;
  4. Menyatakan (ikrar tertulis) siap dibina, bekerja keras dan ikhlas atas nama BIM dengan mengedepankan ketertiban, adminstratif, amanah / kejujuran dan keterbukaan, serta siap menerima sangsi jika melanggar aturan sesuai ketentuan BIM;

Pasal 14

Kewajiban anggota

  1. Mematuhi aturan dan keputusan Pengurus BIM;
  2. Berperanserta dalam kegiatan usaha yang diadakan oleh BIM;
  3. Memelihara kebersamaan berdasarkan asas kekeluargaan;
  4. Menjaga nama baik Pesantren Attahdziby dan BIM
  5. Tidak menguasai, menggunakan, atau mentasarufkan hak milik BIM di luar wewenang dan tanggungjawabnya atau hak sesama anggota tanpa izin / sepengetahuan yang bersangkutan.

Pasal 15

Hak dan Wewenang Anggota

  1. Menerima pembinaan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh BIM;
  2. Mendapatkan pekerjaan dan keuntungan kerjanya sesuai dengan ketentuan BIM;
  3. Mendapatkan kesempatan menabung dengan aman;
  4. Menghadiri, menyatakan pendapat, dan memberikan suara dalam rapat-rapat yang dihadirinya;
  5. Memilih dan/atau dipilih menjadi anggota pengurus BIM;
  6. Mengajukan pendapat, saran, usulan yang bermanfaat kepada pengurus BIM baik dalam rapat maupun di luar rapat yang dihadirinya.
  7. Mendapatkan pelayanan yang sama antara sesama anggota;
  8. Mendapatkan keterangan mengenai haknya dan perkembangan BIM menurut ketentuan yang berlaku;

BAB V

KEPENGURUSAN

Pasal 16

Status, Pengangkatan dan Struktur Pengurus BIM

  1. Pengurus BIM bernaung di bawah Kepengurusan Pesantren;
  2. Pengurus BIM dipilih dan diangkat oleh peserta Rapat Akbar;
  3. Struktur dan jumlah pengurus disesuaikan dengan keperluan;
  4. Pengurus BIM adalah sebagai meneger pengelolaan, terdiri :
  • General Manager;
  • Manager Keuangan;
  • Manager Pengadaan dan Pemasaran;
  • Manager Pelatihan dan Pembinaan;
  • Sekretaris dan staf manager (jika diperlukan);

Pasal 17

Tugas, Hak dan Wewenang Pengurus BIM

  1. Pengurus BIM bertanggung jawab penuh dalam melaksanakan dan menjalankan tugasnya untuk kepentingan usaha BIM demi tercapainya missi dan visi yang telah ditentukan.
  2. Pengurus BIM membuat dan menyampaikan Laporan Per-tanggungjawaban kepada Rapat Akbar BIM.
  3. Pengurus BIM supaya menjalankan tugasnya sebaik mungkin dengan mengindahkan aturan yang berlaku atau sesuai dengan Pedoman Pengelolaan & Pengembangan BIM ini.
  4. Pengurus BIM dapat membuat kebijaksanaan, ketentuan dan aturan yang detail dalam pengelolaan dan pengembangan BIM;
  5. Pengurus BIM dapat membuat jadual kegiatan kerja, pembinaan dan sebagainya bagi anggota yang tidak benturan dengan jadual kegiatan Pesantren Attahdziby;
  6. Pengurus BIM dapat menentukan usaha-usaha pengembangan yang bersifat mendidik kemandirian serta menguntungkan kepada anggota dan masyarakat.
  7. Pengurus BIM dapat menjalin kerjasama dengan pihak lain (lembaga / perusahaan), dengan batas-batas sebagai berikut :
  • Pihak lain yang jelas legalitasnya (tidak bermasalah dengan hukum) dan tidak mengikat;
  • Bisa saling memberi keuntungan;
  • Dilakukan dengan tertib administratif dan keterbukaan;

(8) Pengurus BIM tidak dibenarkan menguasai, menggunakan, atau mentasarufkan hak milik BIM atau anggota di luar wewenang dan tanggung jawabnya.

(9) Pengurus BIM berhak menerima imbalan jasa dari BIM sesuai dengan hasil keputusan rapat gabungan Pengurus Pesantren dan Pengurus BIM.

BAB VI

RAPAT & PEMBINAAN ANGGOTA

Pasal 18

Rapat Akbar

(1) Dilaksanakan setiap 1 tahun sekali yang dihadiri/diikuti oleh ;

  • a. Pengurus lengkap Pesantren Attahdziby;
  • b. Pengurus lengkap lembaga BIM;
  • c. Seluruh anggota BIM;
  • d. Undangan khusus yang dipandang perlu.

(2)- Dilaksanakan untuk :

  • a. Menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus BIM semasa tugasnya;
  • b. Memilih Pengurus BIM periode berikutnya;
  • c. Menetapkan atau merobah isi Pedoman Pengelolaan & Pengembangan BIM;
  • d. Menyusun Program Tahunan BIM;
  • e. Membuat Rancangan Anggaran Biaya BIM periode berikut-nya;

Pasal 19

Rapat Kerja Gabungan

(1) Dilaksanakan sekurang-kurangnya 2 kali setahun atau pada saat ada sesuatu yang mendesak yang dihadiri / diikuti oleh :

a. Unsur Pimpinan Pengurus Pesantren Attahdziby;

b. Pengurus BIM (lengkap).

c. Undangan khusus yang dipandang perlu.

(2) Dilaksanakan untuk :

a. Menyampaikan Progres raport kerja setengah tahunan oleh pengurus BIM;

b. Mengevaluasi Progres raport;

c. Menentukan imbalan jasa (bisyarah) bagi Pengurus BIM;

d. Membahas hal-hal yang bersifat penting dan mendesak;

Pasal 20

Rapat Kerja Pengurus

(1) Dilaksanakan sewaktu-waktu diperlukan dan dihadiri/diikuti oleh :

a. Para pengurus BIM;

b. Undangan khusus yang dipandang perlu.

(2) Dilaksanakan untuk :

a. Menentukan kebijaksanaan pengelolaan dan pengembangan BIM;

b. Menentukan bentuk dan jenis usaha-usaha BIM;

c. Mengevaluasi pekerjaan / hasil kerja pengurus dan anggota;

d. Membahas hal-hal lain dan permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan dan pengembangan BIM.

Pasal 21

Pembinaan Anggota

(1) Dilaksanakan sewaktu-waktu diperlukan (terjadual);

(2) Diikuti oleh seluruh anggota atau anggota-anggota yang perlu diberi pembinaan;

(3) Metode dan sistem pembinaan ditentukan oleh pengurus dan pembina;

(4) Materi pembinaan disesuaikan dengan keperluan BIM atau anggota;

(5) Pembinaan mental spiritual bisa dilakuakan oleh BIM sendiri atau bergabung dengan pembinaan yang dilaksanakan di Pesantren Attahdziby (situasional);

BAB VII

PENDANAAN DAN KEUANGAN

Pasal 22

Sumber Dana

  1. Penanaman modal dari Anggota;
  2. Keuntungan hasil usaha dan pengembangannya;
  3. Dana hibah / jariah / bantuan / pinjaman lunak dari perorangan / lambaga lain yang tidak mengikat;
  4. Usaha-usaha lain yang sah dan halal.

Pasal 23

Pembagian Hasil Usaha

(1) Untuk BIM dan Pesantren Attahdziby:

a. Pengembalian modal pokok kepada BIM;

b. Dana pengelolaan / pengembangan BIM dan Dana Sosial Pesantren Attahdziby masing-masing 15% dari keuntungan usaha;

(2) Untuk Anggota :

a. 50 % dari keuntungan usaha untuk simpanan Anggota yang bersangkutan;

b. 20 % dari keuntungan usaha diterima langsung oleh anggota yang bersangkutan.

(3) Untuk Pengurus BIM :

a. Bisyarah kerja bulanan yang ditentukan dalam Rapat Kerja Gabungan;

b. Biaya operasional yang disesuaikan dengan pekerjaannya

BAB VIII

PEMBUBARAN

Pasal 24

(1) Apabila karena sesuatu yang tidak dapat dielakkan sehingga BIM harus dibubarkan, maka pembubarannya dilakukan oleh rapat yang diadakan khusus untuk itu, dan memperoleh persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) suara yang hadir.

(2) Apabila BIM bubar, maka harta kekayaannya dipergunakan bagi kemaslahatan Pesantren atau umum yang ditentukan oleh Rapat yang membubarkan.

BAB IX

LAIN-LAIN DAN PENUTUP

Pasal 25

Perubahan Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan BIM ini hanya dapat dilakukan oleh Rapat Akbar atau Rapat Kerja Gabungan diperluas yang diselenggarakan khusus untuk perobahan tersebut dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) suara yang hadir.

Pasal 26

Hal-hal yang diperlukan dan tidak atau belum cukup diatur di dalam Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan BIM ini bisa ditentukan oleh Rapat Kerja Gabungan;

Pasal 27

(1) Mudah-mudahan BIM dengan panduan Pedoman Pengelolaan dan Pengembangannya ini diberi kemudahan, kelancaran, berkah, maslahah dan diridloi di dunia sampai akhirat. Amiin.

(2) Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan BIM ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

DI TETAPKAN DI : MADIUN

PADA TANGGAL :

3 Rob. Awal 1430 H

28 Pebruari 2009 M


([1] ) Pola Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pondok Pesantren, Depag RI, hal. 3


TAGS pesantren


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive